Selamat tinggal Selvia: salah satu Penguji Prostetik dan Orthotics terbaik kami

 

Kami  sedih untuk mengatakan selamat tinggal untuk salah satu staf yaitu Selvia Suryadinata Supervisor P&O, Selvia bekerja dengan PUSPADI Bali selama dua tahun setelah lulus dari Jakarta School of Orthotics and Prosthetics. Ia memiliki etos kerja yang baik, penyandang disabilitas yang kami bantu selalu menerima perhatian dan prifasi ketika Selvia membuatkan alat bantu.

Tim PUSPADI Bali akan merindukannya tetapi kami senang mendengar rencananya untuk melanjutkan studinya di Thailand. Dalam sebuah wawancara dibawah ini, selvia menceritakan perjalanan terakhirnya ke Atambua dimana ia dan Nesa (workshop koordinator kami) melakukan assessment dan casting untuk penyandang disabilitas yang tinggal disalah satu daerah miskin di Indonesia tersebut.

PUSPADI Bali mempunyai kolaborasi dengan Pusat Rehabilitasi Hidup Baru Atambua dan mereka membantu staf kami untuk mencari penyandang disabilitas yang memerlukan bantuan kami.

Bisa ceritakan pekerjaan yang anda lakukan di Atambua?

Kami melakukan perkerjaan seperti biasa yang kami lakukan di PUSPADI Bali seperti pendataan, casting, fitting alat bantu dan menyerahkannya ke klien. Di Atambua sendiri, kami pergi selama 7 hari (6 hari kami melakukan pekerjaan dan sehari mengunjungi penyandang disabilitas di daerah terpencil).

Bisa ceritakan jenis disabilitas yang ada di Atambua?

Kami melihat banyak orang dengan polio atau yang diamputasi karena luka kecil (dari sayatan pisau) tetapi tidak dirawat atau diobati, itu bisa menjadi infeksi dan menyebar, hal tersebut yang menyebabkan amputasi.

Jika penyandang disabilitas tidak menggunakan alat bantu, apa yang mereka gunakan?

Rata-rata mereka menggunakan tongkat yang mereka buat dari bambu atau kayu atau mereka berjalan dengan lutut.

Hampir semua penyandang disbilitas yang kami temui di Atambua adalah Petani, jika musim kering, sangat kering, jika musim hujan banyak lumpur dimana-mana.

Jadi mereka berjalan diarea ini, mereka kebanyakan menggunakan lutut dan itu sebabnya kami menemukan banyak masalah kontraksi lutut. Hal ini begitu sulit untuk mereka dan kami harap bisa membantu penyandang disabilitas di Atambua karena mereka sangat membutuhkan bantuan kami.

Bisa ceritakan perjalanan dengan jarak yang jauh untuk menemukan penyandang disabilitas yang tinggal di Atambua?

Salah satu penyandang disabilitas yang kami kunjungi jaraknya 7-8 jam dari tempat kami berada dengan kondisi jalang yang tidak mulus seperti disini (di Denpasar)

Seperti jembatan dan hutan yang harus kami lewati tanpa ada lampu (sangat gelap gulita). Kami melakukan secepat mungkin karena jika kami melakukannya sampai malam, kami tidak akan bisa melihat apapun karena yang terlihat nya kegelapan dan jarang orang yang memiliki listrik.

Apa yang anda lakukan saat pertama kali tiba dirumah klien?

Kami menindaklanjuti  penyandang disabilitas yang sebelumnya pernah kami temui dan melihat kondisinya apakah mereka membutuhkan pengukuran, casting, bantuan lain atau jika mereka  membutuhkan batuan untuk pergi ke Pusat Rehabilitasi Hidup Baru Atambua dan kami akan bertemu mereka lagi di sana

Sulit bagi Yayasan Rehabilitasi Hidup Baru Atambua menemukan mereka dan mencoba membawa mereka ke centre untuk mendapatkan alat bantu dari kami karena kadang-kadang penyandang diabilitas tidak menginginkan alat bantu atau mereka merasa malu dengan keadaannya.

Terkadang, ada orang dengan cacat tubuh yang membutuhkan penjepit atau perangkat lain dan kami menjelaskan fungsinya tapi mereka akan mengatakan, bahwa mereka tidak ingin memakai perangkat semacam itu karena mereka sangat khawatir terhadap reaksi keluarga mereka.  Akan bereaksi Hal ini juga karena pikiran tidak terbuka terhadap jenis dukungan dan manfaatnya.

Bisa anda ceritakan perbedaan pola pikir penyandang disabilitas di Bali dan Atambua?

Iya, kepedulian terhadap penyandang disabilitas di Atambua masih kurang daripada di Bali. Di Bali, keluarganya akan mencoba menyembunyikan penyandang disabilitas dari masyarakat tetapi di Atambua, beberapa keluarga tidak mengizinkan mereka mendapat alat bantu atau dukungan lainnya dan itu yang membuat lebih sulit.

Sekali mereka mendapatkan alat bantu, apakah orang dengan disabilitas kemudian mereka bisa kembali ke masyarakat?

Sebelumnya, sangat sulit bagi Pusat Rehabilitasi Hidup Baru Atambua  untuk mendekati penyandang disabilitas untuk direhabilitasi mendapatkan alat bantu tetapi setelah mereka mencoba dan tahu bagaimana kegunaannya, mereka merasa sangat membutuhkannya.

Kemudian, lebih banyak penyandang disabilitas yang kami bantu di Atambua menggunakan alat bantu yang kami buat hingga rusak dan kami buatkan yang baru lagi.

Berapa banyak penyandang disabilitas yang baru didata oleh PUSPADI Bali di Atambua?

Ada 27 orang klien baru yang kami bantu di Atambua, dengan 2 orang yang membutuhkan brace, dan 15 lainya membutuhkan alat bantu lainnya (termasuk kaki palsu, AFO dan kursi roda). Kebanyakan dari mereka adalah perempuan tetapi tidak ada perbedaan yang besar, karena 60% perempuan dan 40% laki-laki.

Seberapa pentingnya program outreach dan perjalanan ke daerah terpencil bagi PUSPADI Bali?

Ini sangat penting karena saya fikir ini Atambua itu sendiri, sangat sulit untuk mendapat alat bantu.

Orang-orang dengan disabilitas bisa mendapatkan sebuah kursi roda tetapi itu bisa dari tempat yang jauh atau mereka dapat dari Kupang (yang mana 8 jam perjalanan) atau dari Atambua. bagaimanapun, dengan prosthetic itu sendiri, mereka  tidak bisa mendapatkannya dimana saja dan itu hal yang sangat sulit.